Kepulan asap kendaraan di jalan besar itu terus saja membentuk pusaran. Gas knalpot yang dibawa oleh truk-truk besar membuat pertigaan Gandulan itu menjadi udara penyakit yang menyebar dan menghinggap di mana saja. Sepanjang jalan utama pantai utara Jawa memang selalu dipadati oleh kendaraan yang lalu lalang. Kebanyakan adalah truk-truk besar berplat luar kota. Bahkan banyak juga yang luar provinsi. Semua dengan kepentingannya masing-masing tanpa mempedulikan kondisi sekitar jalan.
Setiap malamnya selalu saja bus jurusan Jakarta yang melintas di jalan pantura itu melaju dengan kecepatan tinggi. Banyak korban yang diakibatkan dari ugal-ugalannya sopir bus ini. Bagi mereka, orang-orang tua yang menggunakan sepeda motor selalu digerayangi rasa takut ketika sedang menikmati perjalanannya di jalan pantura kalau-kalau menjadi korban yang ke sekian kalinya. Tiba-tiba dari arah samping, sebuah mobil berplat Semarang itu menabrak seseorang yang sedang berlari. Di petigaan Gandulan itu berulang kali terjadi….
Di pinggir jalan itu. Orang-orang yang ramai dengan pertanyaannya masing-masing sampai membentuk koor yang tidak jelas. Terlihat juluran panjang warna kuning bertuliskan Police Line membatasi para warga yang sedang menonton sesuatu yang dianggapnya menarik bagi mereka. Ternyata darah. Darah yang berceceran di jalan itu milik seorang lelaki yang tergeletak dan ditutup wajahnya pakai sobekan kertas berwarna merah bergaris putih karena sudah tidak bernyawa lagi.
Setiap hari Bu Sundari mengumpulkan darah untuk diolah menjadi makanan yang lezat. Biasanya, darah yang berhasil didapatnya itu ditampung dalam ember besar warna putih bekas kemasan cat tembok. Tentunya, bekas kemasan cat tembok itu sudah terlebih dahulu disterilkan.
Selanjutnya, untuk mengolah darah menjadi makanan yang lezat adalah dengan direbus dulu. Kemudian diberi garam dan gula pasir secukupnya. Sebagai penyedap rasa, ditambahkan kaldu. Bu Sundari memisahkan rasa olahan darahnya menjadi dua, yaitu kaldu rasa ayam dan sapi. Setiap kali ada calon pembeli yang menghampiri, selalu saja yang ditawarkan Bu Sundari, “Didih, Mbak…yang rasa kaldu ayam. Rasa kaldu sapinya juga ada, Mbak,” Begitu seterusnya. Bahkan, dengan genitnya Bu Sundari menawarkan dagangannya, “silahkan Mas, Pak, enak loh didihnya. Beli dua rasa dapat bakulnya. Ayo…ayo, silahkan coba. Kalau tidak enak tidak usah dibeli.”
Ketika orang baru pertama kali melihat polah Bu Sundari berjualan di pasar, pasti banyak menyangka ia penjual obat. Padahal ia hanyalah seorang penjual didih. Makanan yang bahan dasarnya adalah darah. Kalau ada orang yang memakan didih berarti bisa juga disamakan dengan nyamuk. Bahkan Drakula. Mereka kan memakan darah. Ih… menyeramkan.
Orang seperti Bu Sundari sangatlah merasa beruntung. Meskipun ditinggal suaminya, ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Dagangannya selalu laris manis. Sebenarnya bila ditilik dari rasa didih yang dijualnya sih biasa-biasa saja. Apalagi bagi kaum Muslim, makanan seperti itu diharamkan. Bentuk tubuh Bu Sundari yang masih bagus didukung oleh paras cantik bak Dewi Sembadra yang ginuk-ginuk itu ditengarai sebagai daya tariknya.
Ketika darah yang direbus itu mendidih, langkah selanjutnya disaring menggunakan penyaring khusus yang dibuat sendiri oleh Bu Sundari. Penyaring yang dibuat oleh Bu Sundari itu memakai bekas pakaian yang sudah tidak dipakai lagi karena sudah sobek atau sudah tidak bagus lagi. Pakaian yang sudah tidak dipakainya lagi itu digunting seperlunya saja. Kain hasil guntingan itu kemudian dijahit memutari lingkaran bambu yang sudah dibuat sebelumnya.
Tahap terakhir proses pemasakan darah adalah pendinginan dengan memindahkan olahan darah dari dandang ke loyang besar. Tunggu beberapa menit agar olahan darah tersebut menjadi hangat-hangat kuku, kemudian dimasukkan ke dalam freezer. Apabila air darah masih panas, tidak boleh langsung dimasukkan ke dalam freezer karena dapat merusak sistem kerja freezer. Hal ini kenapa freezer sering rusak karena harus menerima suhu yang sangat panas dan mendinginkannya dengan proses yang berat.
Setiap pagi Bu Sundari membawa barang dagangannya ke pasar Johar. Dengan angklo besar yang diikat dengan selendang kesayangannya dan diselempangkan di punggungnya, Bu Sundari membawa barang dagangannya dengan langkah mantap menuju halaman belakang. Dari rumah ia mengayuh sepeda ontanya ke pasar dengan harapan dagangannya bisa habis nantinya.
Tak berapa lama berselang, kontan benar adanya. Dagangan ludes terjual. Laris manis tanjung kimpul. Orang-orang Cina itu selalu menjadikan didih sebagai lauk-pauk yang mereka gemari. Iya. Didih. Didih yang bahan dasarnya adalah darah. Setelah dimasak oleh Bu Sundari, jadilah makanan lezat yang digemari warga Pecinan samping pasar Johar itu.
Di tengah kemenangan TNI yang telah berhasil memporak-porandakan kekuatan dalam negeri yang mencoba memprovokasi terjadinya disintegrasi bangsa, sorak-sorai perwira dengan tembang kemenangan pun terdengar menggema. Para pemimpin perwira itu terlihat membaur dengan anak buahnya merayakan pesta kemenangan dengan membakar ayam alas yang baru saja diburunya di hutan dengan senapan AK-47 dan MP4.
“Saya mengundurkan diri, Letnan.”
“Apa?!. Apa kau bilang tadi?”
“Saya mengundurkan diri, Letnan.”
“Siapa kau?,”
“Siap, Letnan!. Abilowo, Letnan.”
“Perwira macam apa kau?. Nama boleh sang…Ngar! Tukang jagal dari hutan Alas Roban tapi hati kutu kupret. Lebih baik mati saja manusia macam kau ini!”
Bersama anggota Batalyon 101 lainnya, sebenarnya TNI telah berhasil menewaskan Presiden dan Menteri Pertahanan Fretelin Nicolao Dos Reis Lebato di Timor-Timur.
“Seorang perwira berhenti dari karir kemiliteran karena telah melakukan kesalahan, telah masuk usia pensiun atau mati di tengah medan laga. Sedangkan kau!. Apa pula alasan kau?.”
“Siap, Letnan!. Saya kutu kupret, Letnan.”
“Apa???”
“Ma…ma..af Letnan. Saya takut letnan. Saya takut membuat orang mati lagi, Letnan. Saya harap Letnan meluluskan permohonan saya ini, Letnan.”
“Jawabanmu adalah kata-kata seorang pengkhianat bangsa. Orang-orang seperti kau telah meresahkan kesatuan almamater ABRI.. Kau. Di dalam surat mundurnya kau nanti, akan tertulis, surat pemberhentian, bukan surat pengunduran diri. Dilanjutkan dengan, diberhentikan dengan tidak hormat….pengecut kau!,” Letnan Dua sebagai pimpinan mereka itu membentaknya dengan penuh emosi menghantamkan berkali-kali kepalan tangannya ke muka perwira tadi.
“Letnan…Letnan,,,sudah Letnan.” Keramaian terjadi oleh teriakan para perwira yang mencoba meredam pimpinannya dengan menahan tubuh gempal yang ingin terus menghantamkan gadanya.
Perwira dengan nama Abilowo itu meringis kesakitan. Sementara, pimpinannya segera pergi meninggalkan kerumunan pesta dan kembali ke barak kamp TNI. Pimpinan kesatuan Nanggala Batalyon 101 itu layak kecewa terhadap kemunduran anak buahnya karena penggempuran kekuatan-kekuatan yang memecah integrasi bangsa masih menghadang di depan.
Para perwira menuju baraknya masing-masing penuh rasa kecewa yang diumpatmya dalam hati.
“Kenapa denganmu ini, kawanku?. Aku yakin, ini bukan kawanku yang aku kenal sejak di SMA dan di Akmil Magelang dulu. Bolehkah aku dengar ceritamu perihal kau mengundurkan diri?,” Salah satu teman perwira mendekat mencoba untuk memberikan empati.
“Bukankah pimpinanmu sudah mengatakan bahwa aku seorang pengecut.”
“Dia?. Dia pimpinanmu juga.”
“Sekarang bukan.”
“Lalu?”
“Lalu apa?. Semuanya sudah jelas.”
“Hei…aku kawanmu. Jangan katakan aku sudah bukan kawanmu lagi!”
“Terus…?”
“i…i…i..ya saya ingin dengar dari hati. To…to long lah kawan. Saya takut memulai pembicaraan kalau jawaban-jawabanmu terus-terus membuatku serba salah.”
“Buat apa aku jelaskan ini semua?. Sudah selesai!,”
“Baik. Baiklah kawanku. Aku tidak akan memaksamu.”
Tiba-tiba suasana hening menggelayuti malam itu karena kedua perwira itu duduk tafakur dengan tatapan mata kosong. Malam yang sebenarnya adalah pesta kemenangan telah dilumpuhkannya Presiden Fretelin dan harus dirayakan dengan membakar ayam alas yang sudah dikuliti. Tinggal menyiapkan beberapa tambahan batang kayu dan apinya saja. Tetapi apa boleh kata. Suasana malam itu berubah menjadi malam yang tidak ada maknanya lagi bagi perwira bernama Abilowo.
“Kau ingat ketika dulu setiap sore sering kuajak kau ke Taman Kota Lama itu?. Sudah lama memang. Tujuh tahun lalu kita duduk di bangku SMA kelas 3. Taman yang indah ya. Ada kolam besar yang disekelilingnya ditumbuhi bunga mawar warna merah dan warna putih. Suara kereta itu. Suara kereta yang selalu kita dengar ketika kita sedang duduk menikmati alunan musik keroncong yang menggambarkan keindahan stasiun itu. Mereka para pengamen keroncong yang selalu mengamen di depan stasiun Tawang. Pemandangan sore di seberang taman air itu membuat kita ingin kesana lagi ya. Kau lihat Menir yang keluar dari rumah-rumah bangunan tua yang hampir roboh itu memanggil bapak-bapak tukang becak?. Burung gereja yang selalu berjejer-jejer di gereja Blenduk…Wah, dulu kenangan di Semarang indah sekali. Sekarang bagaimana dengan Semarang ya?. Oiya, dulu kau pernah mengajakku mengamen ketika kau sedang patah hati dengan wanita pujaanmu. Kau selalu menyerah dengan keadaan ini. Hampir saja kau mengorbankan sekolahmu. Aku ingat itu. Tapi beruntunglah, kau dapat pencerahan dariku..he he he.
Bil, ingatkah kau?. Arah pandang kita selalu ke depan pintu gerbang stasiun itu. Kubah stasiun yang bercat putih itu besar dan indah memang. Kubah yang dibuat dengan arsitektur bergaya Eropa berpadu dengan budaya Arab. Kau tidak memandang kubah itu sebenarnya. Aku ingat. Kau yang selalu menunjukkanku kalau-kalau ada wanita cantik yang turun di stasiun Tawang. Kau yang paling berharap kalau-kalau ada wanita cantik sendirian membawa barang yang banyak. Ternyata benar. Wanita yang kau harapkan benar-benar muncul di depan mata. Kau menghampirinya. Kau dengan buayanya segera menawarkan bantuan gombal yang sebenarnya pamrih ingin mendapatkan wanita itu. Sampai-sampai, kau yang mengantar wanita itu ke rumahnya. Iya kan?. Dulu, ketika itu kau sangat ketakutan menyambangi rumahnya di apel malam Minggu yang pertama karena bapaknya seorang militer. Oleh karenanya, kau selalu memintaku untuk menemani. Saya sebenarnya juga takut. Tahukah kau Bil, aku juga sama menyukai wanita itu.Itu yang membuatku berani menemanimu menyambangi dia. Tapi apa boleh buat?. Aku harus merelakan semuanya demi kawanku.”
“Brengsek kau. Dia mencintaiku. Dia hanya menganggapmu sebagai Kakak saja. Tidak lebih. Jangan putar balikkan fakta.”
“Ha…ha…ha. Bagaimana kabarnya wanita itu ya?,” kawan lama Abilowo itu tertawa setengah meledek.
Kembali terdiam kedua kawan lama yang sama-sama duduk memandang jauh bukit itu sedang mencoba mengenang kembali masa remajanya.
“Sepertinya, terakhir kali kau sudah berani ngapelin dia tanpa aku yang menemani. Bagaimana kelanjutannya?,” Teman Abilowo yang satu ini sangat pandai bila membawa suasana ke arah tujuan yang dimaksud. Sindiran ampuh yang membuat Abilowo buka mulut.
“Itu dia. Itu yang membuatku ingin mundur dari kesatuan.”
“Ada apa kawanku?. Apakah aku boleh mendengarkan sedikit saja ceritamu itu?.”
“Istri Presiden Fretelin itu. Ya. Istri Presiden Fretelin itu.”
“Apa hubungannya dengan istri Presiden Fretelin?.”
“Ada hubungannya.”
“Iya. Kenapa dengan istri Presiden Fretelin itu?.”
“Mati.”
“Kamu tembak?”
“….”
“Trus kamu apakan dia?.”
“Istri Presiden Fretelin itu ditembak kakinya oleh teman kita yang lain.”
“Trus?… Mati?.”
“Tidak”
“Bagaimana kau ini?. Tadi kamu bilang dia mati.”
“Aku membantunya menghentikan pendarahan di kakinya pakai selendang yang aku ambil dari perlengkapan tasku.”
“Kamu telah menolongnya. Berarti kamu adalah pahlawan bagi wanita itu.”
“Bukan itu.”
“Maksudmu?.”
“Selendang yang diikatkan di kakinya untuk menghentikan pendarahan ternyata dilepasnya kembali. Wanita itu menggunakan selendang yang kuberikan untuk gantung diri di rumahnya setelah merasa harus menyusul suaminya yang telah tewas tertembak jantungnya.”
“Hanya karena itu kau memilih mengundurkan diri.”
“Hei! Aku belum selesai bicara.”
“…….”
“Kau mau tahu selendang yang digunakan untuk bunuh diri wanita itu?”
“Apa kawanku?.”
“Selendang itu milik gadis yang kita temui pertama kali di stasiun Tawang.”
“Apa?. Trus, apa hubungannya dengan semua ini?.”
“Ceritanya panjang.”
“Tolong ceritakan kepadaku, kawanku. Singkat saja.”
“Lain kali saja kuceritakan.. Suara sirine itu kau dengar?. Kembalilah ke barak. Biarkan aku di sini. Pergi sana. Cepat!.”
Seorang pemuda berpakaian lusuh penuh sobekan dengan kain berlumuran darah yang diikat di kepalanya itu terus saja berjalan menyusuri daerah Gombel yang kontur tanahnya naik-turun. Betapa lelahnya dia. Hampir saja jatuh di pinggir jalan karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan serempetan kendaraan dari belakang. Apalagi sudah beberapa hari ini pemuda itu sepertinya belum makan. Cara berjalannya yang loyo sekali. Perutnya yang kerempeng. Suara keruyukan selalu terdengar apabila ada orang yang lewat di sampingnya. Semua orang pastilah tahu suara itu berasal dari perut pemuda itu.
“Orang gila. Jangan mendekat, nduk. Biarkan saja. Dia orang gila,” Seru Ibu-ibu melarang anaknya menolong orang yang dipanggilnya om-om berpakaian lusuh dan sobek-sobek itu karena dianggap ibunya sebagai orang gila.
“Nanti malam ada wayangan loh Mbak Sun,” Ujar tetangga sebelah yang baru pulang dari tugasnya sebagai satpam.
“Di mana Mas Bambang?”
“Itu loh di komplek perumahan Banyumanik. Dalangnya Ki Narto Sabdo.”
“Wah…wah wah bakal ramai ini. Saya perlu tambahan lagi nih nyari darahnya.”
“Tetep jualan didih ya Mbak?.”
“Sementara itu dulu lah.”
“Kenapa tidak jualan klepon sama onde-onde saja?. Dulu pas ada wayangan juga jualannya itu kan, Mbak Sun?. Kita-kita pada suka loh kalau Mbak Sun jualan klepon sama onde-ondenya. Setiap kali saya pergi ke wayangan cuma mau beli klepon sama onde-ondenya Mbak Sun. Tidak nonton wayangannya..he he he. Klepon sama onde-ondenya Mbak Sun enak. Nyatanya laris kan Mbak?.”
“Ah Mas Bambang bisa saja. Yah…itu dulu. Sekarang tidak ada modal lagi untuk jualan itu, Mas…mas.”
“La emang kenapa to Mbak?.”
“Ah pura-pura saja Masnya menanyai itu. Semua sudah tahu, suamiku sudah lima tahun ini tidak pulang, Mas. Dia juga tidak pernah memberi kabar setelah ditugaskan ke daerah Timor-Timur,” Pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda bernama Bambang tadi telah memecah keharuan Mbak Sundari atas suaminya yang tidak pernah pulang setelah ditugaskan di Timor-Timur.
Kemudian malam yang dinantikan oleh warga Banyumanik dan sekitarnya itu adalah malam yang meriah dengan bakul-bakul mainan anak-anak dan para penjual makanan. Termasuk Bu Sundari dengan lincak yang sudah siap dengan dagangannya. Didih. Dan tentu saja, wayangan semalam suntuk.
“Tahukah kau dik?. Sejak aku lihat kau pertama kali keluar dari stasiun itu. Sepertinya aku telah ditakdirkan menjadi Dewa Penolongmu.”
“Halah Mas…Mas. Kalau kamu tidak ngotot memaksa membawa barang-barangku juga aku pasti manggil tukang becak dekat Taman Kota Lama itu.”
“Sebenarnya karena aku ganteng lah kamu mau aku tolong. Bilang saja iya dik.”
“Ih…siapa juga yang bilang begitu. Kamu saja yang sok kegantengan..iyghhh!.”
“Idih…idih. Nanti Dewi Arimbi kembali ke hutan lagi loh.”
“Apaan sih Mas. Gah tahu ah yang gitu-gituan.”
“Baiknya sih kita sebagai orang Jawa sudah sepatutnya melestarikan budaya adiluhung. Wayang. Yah wayang. Itu cerita wayang dik.”
“Lebih baik mas jadi guru bahasa Jawa saja deh. Pergi saja sana.”
“Ke mana?”
“Ke hutan.”
“Hah?????.”
“Yah ke sekolah dong Mas.”
“Aku mau di sini saja.”
“Trus?.”
“Aku lebih memilih jadi suamimu saja.”
“Ma…Ss..eeh. Kalau aku tahu bakal begini buat apa aku mau kau ajak ke sini..heghhh.”
“Nah loh ketahuan. Kau pasti suka denganku karena aku ganteng kan dik?. Kelihatan kok dari cara tuturmu. Kamu pura-pura bosan denganku dan pengen pulang. Trus kau minta aku menggendongmu. Iya kan dik.?
“Iya…iya…kalau aku suka kamu trus napa?”
“Aha…ha ha ha. Kena deh. Jurusku berhasil…Yes!.”
Gadis itu tersipu malu atas kata-kata yang tidak sengaja keluar dari mulutnya. Jawaban yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh pemuda yang berharap menjadi suaminya kelak di kemudian hari. Entah sebenarnya jawaban itu adalah pura-pura untuk menyenangkannya saja atau telah keceplosan karena gadis itu sebenarnya juga punya rasa dengan pemuda itu. Suasana ribut oleh pasangan yang seharusnya bermadu mesra itu kemudian mendadak menjadi hening dan arah pembicaraan yang menuju serius.
“Dik.”
“Iya mas.”
“Aku akan masuk menjadi tentara. Aku diterima Akmil Magelang, dik.”
“Trus mas?,” Tanya gadis itu cemas serasa akan kehilangan seseorang.
“Dulu saya diperingatkan oleh ayahmu ketika datang ke rumahmu, kalau ingin menjadi pendampingmu haruslah seorang tentara yang gagah. Saya ingin wujudkan semuanya itu. Dik, saya akan berada di tempat yang jauh dik. Setelah itu pasti ditempatkan ke daerah konflik.”
“Mas,” tiba-tiba gadis itu memegang erat tangan pemuda yang sedari tadi membuatnya muak kini ingin diperlakukan dengan perasaan.
“Iya dik.”
“Maafkan ayahku, Mas. Ayahku orangnya memang keras. Beliau adalah keturunan tentara. Nenek moyang kami semuanya tentara. Oleh karena itulah, berhubung orangtuaku tidak memiliki anak laki-laki maka calon suamiku lah yang nantinya harus dari tentara untuk menyambung garis keturunan. Maafkan aku juga Mas. Aku harus menuruti kata hati orang tua. Aku takut disebut sebagai anak durhaka.”
“Aku yang seharusnya minta maaf dik. Aku orang yang belum menjadi orang betulan tapi telah berani-beraninya mencintaimu, dik.”
“Mas.”
“Iya dik.”
“Apa kau benar-benar mencintaiku?.”
“Seputih hatiku seperti bunga mawar itu. Dan semerah darahku pada bunga mawar itu jugayang mengalirkan darahmu. Aku tulus mencintaimu dik.”
“Kau janji mas?. Kau akan selalu mencintaiku?.”
“Di Taman Air Kota Lama ini, saya berjanji dik.”
“Baiklah. Ini selendang kutitipkan untukmu. Ikatkan selendang ini ke tubuhku setelah nanti kau kembali lagi. Dan. Kau tahu bunga mawar itu?. Bunga mawar itu ada yang berwarna merah dan putih. Ke mana pun kau melihat sesuatu yang berwarna merah dan putih, kau ambil dan bawakan untukku. Merah adalah lambang keberanian. Lambang dari darah yang bercucuran mempertahankan kemerdekaan bangsa. Putih adalah lambang kesucian. Bahwa niat hati yang sucilah yang bisa memenangkan sesuatu. Itu warna kebanggaan bangsa ini. Tapi kuminta selain itu. Aku ingin kau datang dengan gagah memberiku apapun yang berwarna merah dan berwarna putih seperti pada bunga mawar itu.
Jadilah perwira sejati yang menjunjung tinggi kepentingan bangsanya. Perwira yang kukagumi yang kuharapkan kemudian mengikatkan selendang biru itu ke tubuhku. Bila kau datang pada saatnya nanti dengan keadaan seperti itu berarti kau benar-benar mencintaiku. Tolong berjanjilah kepadaku.”
“Saya janji dik. Saya akan membawakan itu semua. Sesuatu yang berwarna merah dan berwarna putih. Dan, selendang ini akan kupakaikan sebagai penutup kepalamu setelah aku kembali nanti. Saya pamit dik.”
Tiba-tiba barang dagangan milik Bu Sundari diangkut semua oleh pemuda yang dianggap oleh orang-orang sebagai orang gila. Pemuda itu memasukkan barang dagangan Bu Sundari ke dalam sebuah plastik hitam sambil berteriak membentak penjualnya.
“Kau berjualan darah. Mengapa kau berjualan darah. Tahukah kau? Darah berwarna merah. Dulu orang berjuang mempertahankan kemerdekaan ini sampai ke titik darah penghabisan.”
“Saya membuat didih itu menggunakan darah kambing di tukang jagal daerah Kaligawe itu bukan darah manusia.”
Pemuda itu tetap tidak bergeming mengangkut didih itu ke dalam plastik hitamnya dan kemudian diciuminya plastik itu. Sementara orang-orang di sekeliling Bu Sundari yang melihat peristiwa yang bisa dikatakan perampokan itu hanya bisa diam saja. Entah kenapa seperti dibius atau karena menganggap orang gila itu sedang sakau dengan gilanya.
Pemuda itu berjalan meninggalkan kerumunan orang-orang itu dan berteriak.
“Aku telah membawakan ini untukmu Lastri.”
“Siapa namamu?. Pengecut kau!. Akan kuberhentikan kau dengan tidak hormat. Mati saja kau!,” Pemuda itu terus saja berteriak di sepanjang jalan tak peduli jadi perhatian banyak orang.
“Abilowo pengecut. Abilowo pengkhianat bangsa!,” pemuda itu melanjutkan omelannya sepanjang jalan yang ia lewati entah ke mana arahnya. Yang pasti, orang yang lewat di sampingnya selalu menganggapnya gila.
Pemuda lusuh itu terus berjalan dan berjalan menyusuri pantura. Dari Krapyak berjalan menuju Kendal kemudian sampai di Weleri dan setelah itu daerah Cepiring. Serasa cepat sekali langkah pemuda itu berada di tempat yang berbeda tanpa tujuan. Setelah keluar dari daerah Cepiring dia terus berjalan menyusuri Alas Roban. Di sana ia melihat orang-orang yang berpakaian sama dengannya. Lusuh, penuh sobekan pakaian yang dikenakannya. Menggunakan topi caping dengan posisi tangan meminta belas kasihan. Pengendara yang lewat di jalan itu selalu melemparkan uang karena iba atau mungkin ada uang sisa di sakunya dan ketika melihat deretan pengemis yang duduk berjejer itu ingin melemparkan uangnya begitu saja. Bahkan ada anak-anak yang mempermainkan pengemis itu dengan melemparkan uang koin sejauh mungkin sehingga terlihat para pengemis berlarian k esana-kemari berebut uang itu.
Pemandangan yang dilihat pemuda itu serasa kurang menarik menurutnya, maka ia memutuskan untuk terus berjalan dan berjalan ke arah barat. Entah ke mana yang dituju juga tidak jelas. Tapi sepertinya ada sesuatu yang dicarinya.
Tibalah di sebuah daerah ia lihat banyak sekali orang membatik. Iya. Semua orang kelihatan sibuknya membatik. Ibu, Bapak dan anaknya bersama-sama membatik. Hampir semua rumah begitu. Sekeluarga sibuk membatik.
“Daerah apa ini,” Pemuda itu membatin pertanyaannya dengan penuh keheranan.
Pemuda itu merasa heran karena ketika lewat di antara kesibukan orang-orang yang membatik itu dengan penampilannya yang kebanyakan orang menganggap dirinya aneh. Ternyata di sini tidak dianggap aneh. Biasanya orang-orang umumnya menganggap pemuda itu aneh. Bahkan menyebutnya gila.
“Ah mereka gila. Orang di daerah sini gila semua. Buat apa di sini?. Bikin muak,” Orang-orang yang dengan kesibukannya membatik dianggap gila oleh pemuda itu.
Kadang kita orang yang berpenampilan normal menganggap dan memperlakukan orang yang tidak pernah mandi, pakaian lusuh dan sobek-sobek adalah orang gila. Sebenarnya mereka tidaklah gila. Mereka telah masuk dalam dunia mereka sendiri dan telah larut dengan perasaan mereka. Bahkan orang gila juga bisa menganggap orang yang sibuk dengan dunianya dan tidak memperhatikan orang di sekitarnya adalah orang gila.
Arah yang dituju adalah barat, maka pemuda itu terus berjalan menyusuri jalanan yang penuh debu oleh kendaraan yang lalu lalang padatnya.
“Banyak sekali kendaraan di sini. Di manakah saya berada?.”
Setelah bergelayut dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya disimpannya dalam hati, dilihatnya ada anak-anak yang sedang asyik bermain dengan teman-temannya. Pemuda itu mendekati anak-anak.
“Daerah apa ini dik?.”
Sontak anak-anak itu lari terbirit-birit dengan membawa lari benang yang dipegangnya.
“Pasti anak-anak itu menganggap saya gila. Ah…sudahlah.”
Pemuda itu menganggap anak-anak yang takut akan kehadiran dirinya itu sebagai suatu hal yang wajar. Semua orang memang telah menganggapnya gila. Pemuda itu malah senang dianggapnya gila karena telah diperhatikan orang-orang di sekitarnya.
“Tidak seperti orang yang sibuk membatik itu. Mereka semua gila,” Pemuda itu selalu menganggap orang-orang yang tidak memperhatikannya adalah orang gila seperti yang ditujukan pada orang-orang yang sibuk membatik itu.
Sebuah pemandangan yang membuatnya berhenti pada fokus penglihatannya.
“Seperti ikan terbang,” Pemuda itu ternyata melihat layang-layang yang dimainkan anak-anak itu dengan penuh antusias.
“Itu juga ada yang seperti pesawat terbang. Dan itu…kain kok bisa terbang. Warnanya aneh,” Pemuda itu semakin antusias melihat layang-layang dengan bentuk yang beraneka macam. Tiba-tiba dari arah yang berlainan ada layang-layang berbentuk petekan sedang beradu.
“Wah seru nih,” batinnya terus digelayuti rasa senang melihat layang-layang.
Pemuda itu masih terus bergelut dengan antusiasnya melihat layang-layang. Kemudian tiba-tiba tanpa sebuah alasan yang jelas ia menundukkan wajahnya. Wajah yang tadinya sumringah melihat layang-layang yang dimainkan anak-anak di pinggir jalan itu tiba-tiba berubah menjadi wajah yang muram. Sepertinya ada sesuatu yang berat yang sedang dipikirkannya.
“Laras. Aku lihat kau Laras. Kini aku telah menemukanmu. Aku telah melihat sesuatu yang berwarna merah dan putih,” Pemuda itu telah berpikir berat karena warna layang-layang itu.
“Selendangnya. Ya mana selendangnya?,” Pemuda itu mencari-cari barang yang disebutnya selendang itu.
“Oh ini…ternyata sedari dulu telah kuikatkan di kepalaku. Tidak terasa aku. Mungkin kepalaku terlalu pusing dengan pikiran-pikiranku selama ini.”
Tiba-tiba pemuda itu tergugah kaget dengan apa yang dilihatnya. Layang-layang yang sedang beradu itu putus dan membumbung tinggi ke atas.
“Akan kukejar kau.”
Semakin jauh layang-layang itu mengikuti arus angin.
“Lastri…turunlah kau Lastri!,” Pemuda itu terasa aneh memanggil layang-layang dengan sebutan Lastri sambil berlari dengan sisa-sisa tenaganya yang ringkih.
“Lastri….,” Pemuda itu terus memanggil layang-layang yang putus dari benangnya itu dengan sebutan Lastri.
Akhirnya, layang-layang yang dipanggilnya Lastri itu mendarat juga di bibir jalan sebuah perempatan yang penuh dengan debu dan gas knalpot. Diraihnya layang-layang itu dengan ayunan tangan yang keras sehingga sampai sobek oleh genggaman tangannya yang amat erat. Sebenarnya pemuda itu tidak ingin layang-layang yang berhasil diraihnya itu lepas dari genggaman tangannya.Baginya, layang-layang itu segalanya. Bukan. Bukan layang-layangnya. Tapi warna yang ada dalam layang-layang itu.
Akan tetapi, tiba-tiba dari arah belakang….
Brak…
Pengendara mobil itu kaget mendapati ada sesuatu yang ditabraknya. Kabut tebal oleh debu dan gas knalpot telah mengganggu arah pandang para pengendara bermotor yang melewati jalan itu. Pengendara mobil itu segera turun lalu mendapati orang yang ditabraknya sudah tidak bernafas lagi.
“Sepertinya orang ini…?,” pengendara mobil yang menabrak pemuda itu berusaha mengingat-ingat orang yang ditabraknya karena sepertinya pernah mengenalnya. Dan tiba-tiba…
“Astaga!. Oh…kawanku. Maafkan aku. Kau ternyata. Kau Abilowo, Kawanku.”
Tiba-tiba seorang wanita keluar dari mobil karena teriakan suaminya dan menghampiri pemuda yang sudah tidak benafas itu dengan penuh ketakutan. Dilihatnya lelaki yang diketahui sudah tidak bernafas lagi berpakaian lusuh penuh sobekan seperti orang gila. Dilihatnya pula mengenakan selendang biru yang diikatkan di kepalanya.
“Tadi kau bilang apa suamiku?.”
“Dia…dia Abilowo.”
“Hah…kau kau..ternyata kau telah berbohong kepadaku.”
Tiba-tiba wanita itu jatuh pingsan karena penyakit jantungnya kambuh lagi setelah sekian lama dideritanya sejak ditinggalkan Abilowo masuk Akmil. Dan terakhir ketika kontrol di rumah sakit didapatinya sudah memasuki stadium tiga sehingga sedikit saja ia mendengar berita yang tidak baik atau dikaget-kageti, maka gerbang kematian akan terbuka untuknya.
“Istriku…istriku. Maafkan aku istriku. Bangun istriku.”
Dalam waktu yang sekejap banyak orang-orang yang mengerumuninya.
“Maafkan aku istriku. Aku telah berbohong kepadamu. Abilowo tidak mati tertembak di Timor-Timur oleh para orang-orang makar itu. Ayahmulah yang mati karena bidikanku meleset mengenai pelipis kanan kepala ayahmu. Sekarang Abilowo juga mati karena aku. Karena aku yang menabraknya…hiks…hiks…hiks,” Pengendara mobil yang ternyata suami dari wanita itu menangis sesenggukan dengan perasaan penuh penyesalan. Sementara Polisi yang datang beberapa menit lalu mengamankan TKP setelah mendapat laporan warga. Kemudian terlihat dua orang polisi langsung meringkus pengendara mobil itu. Sementara itu, petugas ambulance membawa kedua mayat untuk diotopsi.
“Halo selamat malam…bisa bicara dengan Ibu Sundari?.”
“Iya saya sendiri. Ini dengan siapa?.”
“Kami dari Kepolisian ingin memberitahukan apakah anda mempunyai anak bernama Sulastri?.”
“Iya. Kenapa dengan anak saya, Pak?.”
“Kami pihak kepolisian ikut berduka cita anak anda meninggal dunia karena penyakit jantungnya. Sebelumnya, beberapa saat suaminya menabrak seorang pemuda di perempatan Gandulan. Untuk sementara suaminya kami tahan. Kami dari pihak kepolisian meminta ibu untuk datang ke kantor. Kami meminta tanda tangan ibu untuk otopsi mayat anak ibu.”
Dengan langkah lunglai dan selendang yang masih diselempangkan di pundaknya ibu itu segera mencari tempat yang dirasanya tepat.
Inna lilahi wainna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia. Nama Siti Sundari Sulastri. Umur 45 tahun. Alamat. Desa Padas Payung RT 12 RW IV Semarang. Jenasah akan dikebumikan pada pukul 13.00 siang.
Berita kematian itu dikabarkan melalui speaker Masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah almarhumah itu disiarkan berulang-ulang sampai tiga kali.
“Andai saja dulu kau menerimaku menjadi suamimu, tentunya kau akan kumodali berjualan klepon dan onde-onde…Hiks hiks.
Biarlah aku saja menjadi orang pertama pihak keluarga yang mendengar berita kematian anak kita. Sehingga kau tidak perlu membunuh dirimu sendiri. Mbak Sun…Mbak Sun.”
“Ada apa Mas Bambang?. Berbicara dengan siapa?,” Tanya seorang yang lewat melihat keanehan lelaki kekar bernama Bambang kepergok berbicara dengan dirinya sendiri.
“Ah tidak. Ini…sedang latihan deklamasi untuk tujuh belasan nanti.”
Tak berapa lama berselang tiba-tiba sebuah motor dan pengendaranya dengan warnanya yang seragam berwarna oranye menanyakan perihal alamat yang dicarinya.
“Permisi Pak. Tahu alamat ini?.”
“Ya. Benar ini alamat daerah sini. Itu dia rumahnya yang ada pohon belimbingnya. Tapi Pak…?.”
“Iya Pak?.”
“Penghuninya sudah tidak ada. Penghuninya sudah meninggal.”
“Kalau begitu bisa saya titipkan kepada siapa surat ini?.”
“Mari saya antar ke Pak RT saja.”
“Mari.”
Kebetulan Pak RT sedang ada di rumah. Pak RT sedang menganyam bambu untuk dibuat geribik yang kemudian dijualnya ke pasar. Memang seperti itulah mata pencaharian utama Pak RT.
“Assalammu’alaikum Pak RT.”
“Wa’alaikumsalam. Oh Bambang. Ada apa Mbang?. Silahkan. Mari-mari masuk ke dalam dulu.”
“Ya Pak RT. Makasih Pak RT. Ini. Pak Pos membawa surat. Saya lihat dari alamat pengirimnya sih dari markas besar ABRI Cilangkap.”
“Untuk Ibu Siti Sundari Sulastri, Pak,” Pak Pos menambahkan.
“Gini Pak Pos. Perlu diketahui. Alamat yang dituju surat ini atas nama Ibu Siti Sundari Sulastri adalah benar. Tapi empunya itu baru saja meninggal dunia. Saya sebagai Ketua RT di sini biarlah yang bertanggung jawab atas surat ini.”
“Baiklah kalau begitu. Saya serahkan surat ini kepada Pak RT. Saya pamit Pak RT. Mari Pak RT. Mas,” Pak Pos itu segera pamit melanjutkan tugasnya.
Setelah Pak Pos itu menyalakan motornya dengan sekejap kini menghilang dari pandangan mata Pak RT dan lelaki kekar bernama Bambang.
“Apa isinya Pak RT?.”
“Gini Mbang. Saya sebagai Ketua RT bertanggung jawab atas warga di sini. Alamat yang tertera dalam surat ini empunya sudah tidak ada. Oleh karena itu, kau Bambang. Kau menjadi saksi dibukanya surat ini. Aku buka ya Mbang.”
“Iya Pak RT.”
Timor-Timur, 11 Agustus 1978
Teruntuk istriku tercinta
Di Semarang
Bagaimana kabarmu di Semarang istriku?. Semoga baik-baik saja di sana. Bagaimana juga dengan anak kita, Sulastri?. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan bagi keluarga kita. Di sini Bapak juga baik-baik saja. Di sini tidak seperti di Jawa. Di Timor-Timur banyak tanah gersang yang ditumbuhi alang-alang yang sudah kering. Istriku, mengenai kabar tentang kepulanganku saya juga tidak tahu. Sepertinya masih panjang Bapak di sini. Konflik semakin panjang saja karena gerombolan Fretelin itu memiliki kamp-kamp tersembunyi yang sulit dijangkau oleh kesatuan Nanggala. Minta do’anya semoga Bapak selalu dalam keadaan yang sehat-sehat saja. Amien. Terakhir Bapak berpesan. Kalau Bapak masih lama di sini, tolong laksanakan amanat Bapak ini. Anak kita Lastri sudah cukup umur untuk segera menikah. Aku ingin sekali menjodohkan Lastri dengan tetangga kita yang gagah itu. Sejak jamannya sekolah dia anaknya rajin. Sekarang dia pasti sudah menjadi polisi ya. Dulu saya dengar dia akan masuk Akpol. Tapi saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi apa diterima ya?. Setiap hari saya melihatnya lewat di depan rumah selalu mengenakan sarung dan kukuh dari masjid sebelah rumah kita. Saya melihat lelaki itu sebagai seorang yang pantas bagi Lastri. Namanya siapa dia? Bapak sedikit lupa. Siapa itu? Werkudoro?. Tokoh wayang kesukaan Bapak itu. Tolong sampaikan Bapak merestuinya.
Kalau ada umur panjang Bapak akan memberi kabar lagi.
Sekian.
Suamimu tersayang
Darjono Harjodipo
“Siapa namamu Mbang?,” Pak RT meyakinkan dirinya sendiri atas rasa penasarannya yang mulai meletup. Maksud pemuda gagah tetangga sebelah Pak Darjono Harjodipo dan almarmumah Ibu Siti Sundari Sulastri yang disebutkan di dalam isi surat itu membuat Pak RT berpikir keras. Setelah dipikir-pikir dan dihitung-hitung tidak ada seorangpun pemuda selain lelaki yang sekarang berada di depannya.
“Maksudku, nama lengkapmu?,” Tanya Pak RT yang menyusul dengan kalimat pertanyaannya lagi sambil menunjukkan jari telunjuk meminta jawaban segera.
“Bambang Werkudoro.”
“Oalah.”
Selesai